Thursday, January 04, 2007

Pedang lentur tahun 1517 No seri 510023.




Date: Thu, 4 Jan 2007 03:59:04 -0800 (PST)
From: "EMANRAIS TEA"
Add to Address BookAdd to Address Book Add Mobile Alert
Subject: Re: Fwd: Pedang lentur tahun 1517 No seri 510023
To: Send an Instant Message "Fahmi Utun"

Hatur nuhun cep Ami. Nanti abah simpan di blog untuk ikut memperingatkan masyarakat yang sempat membacanya agar tidak menjadi korban penipuan. Abah setuju kalo mengingat harga Rp. 300 Milyar yang ditawarkan, tentunya pedang lentur itu harus Aseli Jepang milik keturunan Shogun. Tapi Shogun yang mana dan siapa yang bisa menjamin akan keaseliannya? Dengan begitu paling sedikit ada dua pedang lentur dengan tahun pembuatan 1517 bernomer seri 510023 yang sama. Bahkan mungkin juga lebih dari dua. Kita publikasikan saja penemuan ini buat kepentingan masyarakat luas.
Syukur juga cep Ami sudah menembuskan info ini kepada bung Taufik agar dia faham akan situasinya.
Artinya kita gak mungkin lagi untuk ikut memasarkan melalui Internet seperti harapannya.
Ternyata yang namanya pedang sabuk atau lentur ini, memang gak dikenal dalam budaya Jepang kok.
Vide tulisan sebelum ini perihal 'Belt' Swords. URL http://www.geocities.com/alchemyst/repro.htm

Abah sudah menerima email balasan dari cep Yan di Washington. Namun informasi blueberry belum abah terima. Mungkin masih dilacak kemungkinannya. Shabar aja ya. Gimana perkembangan lahan yang lagi digarap? Biar segera pulih kesehatannya ya. Sambil menunggu perkembangan pengadaan biji, agar digarap lagi lahan harapan itu dengan sebaik baiknya. Wassalam, abah.


Fahmi Utun wrote:



Note: forwarded message attached.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com Date: Thu, 4 Jan 2007 01:47:12 -0800 (PST)
From: Fahmi Utun
Subject: Pedang lentur tahun 1517 No seri 510023
To: jaka tigkir

Sebaiknya memang begitu. Apalagi mengingat harga yang anda tawarkan itu sangat fantastis. Saya kira untuk harga 300Milyar Nego, sepasang pedang sabuk yang anda tawarkan tentunya Aseli Jepang milik Shogun seperti keterangan yang telah anda paparkan. Tapi ternyata beredar juga tiruannya, seperti yang masih saya pegang.

jaka tigkir wrote:



terima kasih atas infonya...................akan saya check kebenarannya

"BELT" SWORDS

"BELT" SWORDS

Another fantasy sword commonly sold as being Japanese are so-called "belt" swords. These have flexible blades that fit into a scabbard which can be worn as a belt around the waist. These are not Japanese swords of any period. They are not "ninja" swords (which don't exist anyway :-) These are fantasy items being made in India, China and Southeast Asia. Some of these fantasy items have small knives which insert into the scabbard or buckle.

REPRODUCTIONS AND FAKES


REPRODUCTIONS AND FAKES

All types of Japanese military swords are currently being reproduced and/or faked. These include;Shin-gunto, NCO Shin-gunto, Kai-gunto, Kyu-gunto, Officers Parade sabers and Police sabers. These reproductions are being made in a variety of factories around the world. Some are found in new condition, but most have artificially aged by unscrupulous sellers in an attempt to fool novice collectors.

Both Japanese Naval dirks and Officers dirks are currently being reproduced. The officers / kamikaze dirk even comes with a leather field cover. Be advised and be aware.

There are also numerous modern, crudely made swords of Chinese manufacture masquerading as various types of WW II or earlier Japanese swords. The swords vaguely resemble WW II shingunto or samurai style swords. They may have acid etched panels on the blades or saya with various Kanji sayings and/or Japanese looking flags. Authentic Japanese swords do not have acid etching anywhere on the blade or saya. The saya may be metal, leather covered or same' covered. They will commonly lack habaki. The handles are crudely wrapped except for the metal handles claiming to be NCO swords. Many are excessive long, claiming to be "no-dachi". Most have been "aged" to appear much older than their current production would indicate. These are not reproductions, they have no relation to Japanese swords of any era; they are simply fakes. Do not be fooled by claims to the contrary.



Many other styles of swords are being passed off as antique Japanese swords. Many have poorly cast silver colored tachi or shingunto style mounts and some have strange lacquer designs, stampings or carvings on the tsuka and saya. Some even have fake (gimei) "signatures" (see above right). In a lot of cases the Kanji make no sense when read. Many have low grade "damascus type" blades that have been strongly acid etched to show a design (see below). Do not be fooled; none of these are antique Japanese swords.



Beware of internet auctions. Many are "private auctions" where bidders identities are not available. This generally means the seller doesn't want anyone contacting or warning bidders. Many of these are being sold on internet auction sites by dealers from China (Hong Kong, Beijing, Shanghai, etc). Some of these fakers are using Canadian, US and British (among other) countries of origin to fool potential buyers. These fakers are getting better at making and selling their modern Chinese made junk fake Japanese swords. You MUST examine authentic Japanese swords or risk being "taken" by dealers selling fakes and reproductions as antique Japanese swords. If you have questions about the authenticity of a sword, ask an established dealer in Japanese swords BEFORE you bid on an item. If you get stuck with one of these fakes, you will never get your money back. My best advice: unless you really know Japanese swords, don't buy them from any online auction. My experience is that over 90% of those sold on internet auctions are fake.



Be aware there are also many fake tsuba being sold.

More information on fake Japanese swords and tsuba

Wednesday, January 03, 2007

Duplikasi pedang lentur.

Jakarta Realtime, 3 Jan 2007 17.14
Date: Wed, 3 Jan 2007 02:11:05 -0800 (PST)
From: Send an Instant Message "Fahmi Utun"
Add to Address BookAdd to Address Book Add Mobile Alert
Yahoo! DomainKeys has confirmed that this message was sent by yahoo.com. Learn more
Subject: Fwd: Re: ContactShop-ahmy1982@yahoo.com: Pedang lentur tahun 1517 No seri 510023
To: emanraistea@yahoo.com


Note: forwarded message attached.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Forwarded Message [ Download File | Save to Yahoo! Briefcase ]
Date: Wed, 3 Jan 2007 01:26:04 -0800 (PST)
From: "Fahmi Utun"
Subject: Re: ContactShop-ahmy1982@yahoo.com: Pedang lentur tahun 1517 No seri 510023
To: "jaka tigkir"

HTML Attachment [ Scan and Save to Computer | Save to Yahoo! Briefcase ]
Kemarin saya menerima titipan pedang lentur seperti yng anda tawarkan tersebut tahun pembuatan 1517 dan nomer seri 510023 seperti telah saya sebutkan. Pedang sabuk yang saya pegang itu bilahnya berwarna kuning. Klo begitu kayaknya telah terjadi duplikasi barang yang sama dengan tahun pembuatan dan nomer seri yang sama. Agar maklum, terimakasih.

jaka tigkir wrote:

barang yang saya tawarkan pada tanggal tersebut masih ada dan masih menuggu yang berminat.................kalau anda berminat balas email saya......
atau bisa hubungi saya di 381 7287
terima kasih.................

Tuesday, January 02, 2007

Pedang Sabuk Asli Jepang

Pedang Sabuk Asli Jepang

Tgl. Posting : 16-12-2006 Bandung, Jawa Barat

Menjual Pedang Sabuk asli jepang seri 1112. Peminat serius silahkan hub: Imal 08179277897 Harga Rp.20 jt
Informasi Kontak
Nama : Imal
Email : n1n1anteh@yahoo.co.id


URL http://www.iklanpromo.com/detail/66470

Pedang Samurai Kondisi Terawat

Pedang Samurai Kondisi Terawat ( No : 166256 ) Lihat Gambar
Rp 150.000.000,-

Deskripsi barang
Pedang Samurai Asli jepang Th. Seribu Seratus Delapan Puluh Satu, ciri-ciri di gagang pedang terdapat batu giok, Sertifikat, dan Pisau kecil untuk Harakiri, Kerangka Pedang Sudah Tidak Asli ( Yang Asli Rusak / Hancur)



URL http://www.amboi.com/ItemDetailBidder.asp?ItemID=166256

Multi Projects

Jual Barang Antik / Koleksi, Pedang Samurai Jepang, dll
Jual Barang Antik / Koleksi, Pedang Samurai Jepang, dll
(Gambar)
Negara Asal: Indonesia
Harga: negotiable
Cara Pembayaran: Tunai
Jumlah: negotiable
Kemas & Pengiriman: barang terbungkus

Keterangan:
Bisnis kami termasuk menjual berbagai macam Brang Antik dan Koleksi yang cocok dikoleksi oleh Anda dan bisa juga untuk property production house, film, sinetron, dipajang di restoran, cafe, kantor, dll, adapun barang antik kami sbb :
Pedang Samurai Jepang (koleksi) (warna emas dan perak) dgn harga 5-10 Jt rupiah, Keris Jawa, Perangko Bung Karno pegang pacul dan termasuk juga Uang kertas Bung Karno (warna hijau) yg bisa melipat sendiri, dll.
pls contact me through my mobile phone /SMS: 08121871778
email: pedangjepang@yahoo.com

URL http://www.indonetwork.co.id/multi_projects/65458

Toko Bagus: Pedang Samurai



Pedang Samurai


Jual: Pedang Samurai
Kondisi: Antik

Harga: Rp.225.000.000 Nego
Tanggal: 17-10-2006
Pengiklan: rudyhar 0 (0)
Kota: banjarmasin , Kalimantan Selatan
Telpon 05117529933

BELI!
Kirim pesan ke pengiklan
www.rudyhar.tokobagus.com


URL http://www.tokobagus.com/toko/rudyhar/koleksi/kolektor_tandatangan/pedangsamurai_7974.html

Hitokiri

“HITOKIRI” ( SHINKEN/ KATANA/ PEDANG SAMURAI TAJAM )

Tgl. Posting : 13-12-2006 Jakarta, DKI Jakarta

"HITOKIRI" berbahan CARBON STELL dg spec sbb:
1.HAND FORGED KATANA/ SHINKEN,
2.KISAKI, HAMON, TSUBA, TSUKA, DAN SAYA sangat detail
3.REAL LIVE BLADE
4.VERY RARE and in ECONOMIC Price
5.DESIGNED FUNCTIONAL FOR TAMESHIGIRI
Informasi Kontak
Nama : Dojos Dojo Martial Arts Shop
Email : dojosdojo@yahoo.com
Telepon : 02170041567
Alamat : Jl. Basoka No.5, komp.kodam,sumur batu, jakarta 14250, DKI Jakarta
Website : http://www.indonetwork.co.id/dojosdojo

Klik disini untuk melihat iklan-iklan yang dipasang oleh Dojos Dojo Martial Arts Shop.

URL http://www.iklanpromo.com/detail/66277

Toko Bagus, kok barang anda ada di saya.

pedang samurai keturunan shogun
Jual: pedang samurai keturunan shogun
Kondisi: Antik

Harga: Rp.300.000.000.000 Nego
Tanggal: 18-10-2006
Pengiklan: golden82 0 (0)
Kota: jakarta , Jakarta D.K.I.

BELI!
Kirim pesan ke pengiklan
www.golden82.tokobagus.com


Dijual Pedang Samurai Antik dibuat pada tahun 1517 dengan spesifikasi sebagai berikut :

1. Sepasang Pedang Samurai warna emas dan perak

2. Panjang pedang Samurai 93 cm.

3. Tebal Pedang Samurai 1 mm.

4. Lebar Pedang Samurai 3 mm.

5. Panjang gagang Samurai 36 cm.

6. Didalam gagang Samurai ada Giok bulat warna Hijau beserta dokumennya.

7. Tanda - tanda pada Pedang Samurai.

7.1 Terdapat 9 gambar Bunga.

7.2 Terdapat 9 Gambar Burung.

7.3 Terdapat 9 gambar Bintang.

7.4 Terdapat 1 Gambar Matahari dan 9 titik panah.

7. 5 sudut dekat gagang diapit 2 buah Bendera

7. 6 Nomor Kode 510023

7. 7 Tahun Pembuatan 1517


http://www.tokobagus.com/toko/golden82/Seni_dan_Antik/Ragam_Asia/pedang_samurai_keturunan_shogun_6749.html

Beli: Samurai sabuk/roll

Beli: pedang samurai sabuk/roll [16 Dec. 2006, 8:34:50]
Kami mencari utk dimaharkan/dibeli ,antara lain :
1. Samurai sabuk/roll
Asli dgn spesifikasi :
a. Kedap Udara
Samurai dicabut dari sarungnya lebih kurang 2-3 menit akan kaku seperti kayu (tdk lentur/tdk bisa ditekuk)
b.Anti Magnet
Bilah (blade) samurai apabila magnet ditempelkan tidak akan menempel karena bahan asli dari jenis titanium
c.Putus Paku
Paku dudur 12 cm ditancapkan sedalam 5cm pada kusen/pohon/batang kayu tegak lainnya, kemudian samurai digesekkan 1x paku harus putus.Apabila ternyata 2x tetap ada harganya tapi lebih rendah dari yang 1x gesek.
Apabila anda mempunyai barang seperti yang tersebut di atas kami persilahkan utk meghubungi kami,dengan cara mengirim foto dan surat pernyataan barang ada lengkap dengan kriterianya ,harga yang diinginkan beserta tata cara transaksi yang diinginkan ke email kami di
antq_art@yahoo.co.id
Begitu kami terima email akan kita lakukan nego lebih lanjut tentang pelaksanaan test barang dan proses transaksi.
KAMI ADALAH TANGAN PERTAMA DARI PEMBELI LANGSUNG.
PROSES CEPAT,DAN SESUAI DENGAN PROSEDUR HUKUM YANG BERLAKU DI INDONESIA.KAMI PERSILAHKAN ANDA YANG MEMPUNYAI BARANG YANG BENAR DAN ASLI BISA MENGHUBUNGI KAMI
(hanya kriteria yang meyakinkan yang kami respon)


URL http://indonetwork.co.id/antique_art/298329

Samurai


Samurai
From Wikipedia
Jump to: navigation, search
Huruf bagi Samurai.
Huruf bagi Samurai.

Samurai (侍 atau kadang-kala 士) adalah istilah yang biasa digunakan bagi perwira zaman sebelum industri Jepun. Istilah yang lebih tepat adalah bushi (武士) (harafiah. "orang bersenjata") yang digunakan semasa zaman Edo. Bagaimanapun, istilah samurai digunakan sekarang bagi merujuk wira bangsawan, bukan, contohnya, ashigaru atau tentera berjalan kaki. Samurai tanpa sebarang ikatan dengan sesuatu puak ( clan ) atau daimyo dikenali sebagai ronin (harafiah. "orang ombak").

Samurai dianggap mesti bersopan dan terpelajar, dan beransur-ansur, samurai semasa era Tokugawa beransur-ansur kehilangan fungsi ketenteraan mereka. Pada akhir era Tokugawa, samurai secara umumnya adalah kakitangan am bagi daimyo, dengan pedang mereka hanya untuk tujuan istiadat. Dengan reformasi Meiji pada akhir abad ke 19, samurai dihapuskan sebagai kelas berbeza dan digantikan dengan tentera kebangsaan menyerupai negara barat. Kod samurai yang ketat dikenali sebagai bushido masih kekal, bagaimanapun, dalam masyarakat Jepun masa kini, sebagaimana aspek cara hidup mereka yang lain.
Jadual isi kandungan
[sorok]

* 1 Etimologi
* 2 Senjata
* 3 Sejarah
o 3.1 Asal Samurai
o 3.2 Shogunate Kamakura dan Kebangkitan Samurai
o 3.3 Shogunate Ashikaga dan Tempoh Feudal
o 3.4 Oda, Toyotomi dan Tokugawa
o 3.5 Shogunate Tokugawa
o 3.6 Samurai semakin lemah semasa pemulihan Meiji
o 3.7 Post pemulihan Meiji
* 4 Budaya
o 4.1 Nama Samurai
o 4.2 Perkahwinan
o 4.3 Warisan
* 5 Falsafah
* 6 Samurai dalam Cereka
* 7 Bacaan lanjut
* 8 Pautan luar
* 9 Lihat juga

[Sunting] Etimologi

Perkataan samurai berasal pada sebelum Tempoh Heian di Japan apabila ia disebut sebagai saburai, bererti suruhan atau pengikut. Ianya hanya pada tempoh awal moden, khususnya pada tempoh Azuchi-Momoyama dan awal tempoh Edo pada lewat 16 dan awal abad ke 17 perkataan saburai bertukar diganti dengan perkataan samurai. Bagaimanapun, pada masa itu, ertinya telah lama berubah.

Pada era pemerintahan samurai, istilah awal yumitori (“pemanah”) juga digunakan sebagai gelaran kehormat bagi wira terbilang, walaupun pemain pedang telah menjadi lebih penting. Pemanah Jepun (kyujutsu), masih berkait rapat dengan dewa perang Hachiman.

Berikut adalah beberapa istilah lain samurai:

* Buke (武家) – Ahli bela diri
* Kabukimono - Perkataan dari kabuku atau condong, ia merujuk kepada stail samurai berwarna-warni.
* Mononofu (もののふ) - Istilah silam bererti wira.
* Musha (武者) - Bentuk ringkasan Bugeisha (武芸者), harafiah. pakar bela diri.
* Si (士) - Sepatah perkataan kanji untuk menggantikan perkataan samurai.
* Tsuwamono (兵) - Istilah silam bagi tentera ditonjolkan oleh Matsuo Basho dalam haiku terkemukannya. Erti harafiahnya orang kuat.

[Sunting] Senjata

Seseorang samurai memgunakan pelbagai jenis senjata. Ianya sering didakwa bahawa roh seseorang samurai terletak pada pedang katana yang dibawanya. Kadang-kala samurai digambarkan bergantung sepenuhnya kepada katana untuk berlawan. Ini seperti perbezaan antara peranan crossbow pada kasasteria Eropah zaman pertengahan (medieval) dan peranan pedang kepada kasasteria, simbol sebagai samurai dan bukannya kepentingan katana itu sendiri. Apabila mencecah usia tiga belas tahun, dalam upacara yang dikenali sebagai Genpuku (元服), kanak-kanak lelaki diberikan wakizashi dan nama dewasa dan menjadi samurai secara rasmi. Ini juga memberikan hak kepadanya untuk mengenakan katana walaupun ia biasanya diikat dengan benang bagi mengelakkan katana dihunus dengan tidak sengaja. Pasangan katana dan wakizashi dikenali sebagai Daisho, harafiahnya. besar dan kecil.

Senjata samurai yang digemari adalah yumi atau busar komposit dan ia kekal tidak berubah selama beberapa abad sehingga kemasukan ubat bedil dan rifle pada abad ke 16. Busar komposit stail Jepun adalah senjata yang berkuasa. Saiznya membenarkannya memanah pelbagai panah seperti panah berapi dan panag isyarat dengan tepat pada jarak melebihi 100 meter, melebihi 200 meter jikalau ketepatan tidak terlalu penting.. Ia biasanya digunakan secara berdiri dibelakang Tedate (手盾), perisai kayu yang besar tetapi ia juga boleh digunakan semasa menunggang kuda. Latihan memanah di belakang kuda menjadi istiadat Shinto, Yabusame (流鏑馬). Dalam pertempuran melawan penjajah Mongol, busar komposit ini menjadi senjata penentu melangkaui busar komposit kecil dan crossbow yang lebih digemari oleh tentera Mongol dan Cina. Pasukan tentera Mongol ketiadaan kuda yang telah digunakan dengan berkesan menentang musuh dan terpaksa berperang semasa berjalan kaki, dengan itu mengurangkan keberkesanan mereka.

Pada abad ke 15, tombak yari menjadi senjata utama. Yari menggantikan naginata di lapangan pertempuran apabila keberanian individual kurang menjadi faktor dan pertempuran lebih tersusun. Ia lebih mudah dan merbahaya berbanding katana. Serbuan, berkuda atau berlari, lebih berkesan apabila menggunakan tombak dan memberikan peluang yang lebih baik berbanding samurai bersenjatakan katana. Dalam Pertempuran Sizugatake di mana Shibata Katsuie dikalahkan oleh Toyotomi Hideyoshi, masa itu turut dikenali sebagai Hashiba Hideyoshi, Tujuh Pemain Tombak Sizugatake (賤ヶ岳七本槍), Yari turut memainkan peranan penting dalam meraih kemenangan.

Salah satu perdebatan mengenai senjata samurai adalah sama ada samurai pernah menyerbu dengan menunggang kuda. Kuda pada masa itu adalah lebih kecil tetapi lebih bertenaga, bagaimanapun masih menjadi pertanyaan sejauh mana kuda masa itu mampu membawa samurai yang mengenakan perisai lengkap yang berat. Kepercayaan tradisi menegaskan bahawa samurai pada kebanyakan masa bertempur di belakang kuda dan bertindak sebagai tentera berkuda berat yang menyerbu bagi menembusi tentera berjalan kaki yang tidak mampu berbuat apa-apa. Pada masa kini, dipercayai bahawa samurai pada kebanyakan masa bertempur berjalan kaki dan menggunakan kuda untuk pengangkutan dan hanya sekali-sekala menyerbu dengan menunggang kuda pada musuh yang berterabur dan sedang berundur. Pertempuran Nagashino merupakan salah satu pertempuran di mana samurai dikatakan menyerbu di belakang kuda.

Selepas rifle matchlock diperkenalkan dari Europah, para samurai mula menggunakannya. Ia kemudiannya menjadi senjata kegemaran bagi bagi menembak curi di lapangan pertempuran di mana seseorang samurai diberi hadiah bagi setiap musuh yang dibunuhnya sendiri, walaupun memerintah merupakan aspek penting bagi samurai. Tentera berdaftar ( conscripted ) turut menggunakan rifles matchlock tetapi menembak secara serentak bagi memusnahkan barisan musuh. Pada akhir zaman feudal, sesetengah samurai menubuhkan dragoon sebagai sebahagian tentera dan sesetengahnya dilapurkan telah digunakan dalam Pertempuran Sekigahara dan pertempuran berikutnya.

Sesetengah samurai hanya bersenjatakan dengan katana di medan pertempuran. Takeda Shingen merupakan salah seorang samurai sedemikian. Ini tidak bererti bahawa mereka bertempur dengan menggunakan katana. Sebaliknya, mereka menumpukan pada mentakbir dan yakin bahawa mereka mampu dilindungi oleh tentera mereka. Dalam satu Pertempuran Kawanakajima, ini hampir mengakibatkan Shingen terbunuh. Pelannya tersilap dan tentera Uesugi Kenshin menyerbu tentera di bawah pemerintahan Shingen yang tidak menyedari rancangan perangkap mereka dikesan. Dengan hanya separuh tenteranya dan dikejutan sepenuhnya, Shingen sendiri terpaksa mempertahankan dirinya dengan menggunakan batang kayu yang digunakannya untuk memerintah serangan. Baki tenteranya hampir tidak sempat untuk menyelamatkan Shingen dan tenteranya yang lain daripada dihapuskan sepenuhnya.

Senjata lain yang digunakan oleh samurai adalah jo, bo, bom tangan, majenik dan meriam. Bagaimanapun, sesetengah samurai mengemari yang lain. Dalam pertempuran sekitar pemulihan Meiji, lebih banyak senjata moden seperti Gatling gun dan rifle digunakan.

[Sunting] Sejarah
Lukisan samurai-samurai pada tahun 1880
Lukisan samurai-samurai pada tahun 1880

[Sunting] Asal Samurai

Sebelum Tempoh Heian, tentera di Japan diterapkan menurut tentera Cina dan di bawah pemerintahan langsung Maharaja. Kecuali hamba, semua lelaki berkemampuan mempunyai tanggungjawab untuk menyertai tentera. Mereka perlu membekalkan diri mereka sendiri dan ramai yang sesat atau berputus asa untuk pulang dan menetap dalam perjalanan pulang. Ini dianggap sebahagian daripada cukai dan ia boleh ditukar ganti dengan bentuk cukai yang lain seperti sekayu kain. Mereka ini dikenali sebagai Sakimori (防人), harafiah. pembela tetapi mereka tiada kaitan dengan samurai.

Pada awal tempoh Heian, akhir abad ke 8 dan awal abad ke 9, Maharaja Kammu cuba memantap dan meluaskan kuasanya di utara Honshu. Tentera yang dihantar untuk mematahkan pemberontak Emishi tidak berdisplin dan bersemangat dengan itu menemui kegagalan. Maharaja Kammu kemudiannya memperkenalkan gelaran Seiitaishogun (征夷大将軍) atau shogun dan mulai bergantung kepada puak daerah ( regional clans ) yang berkuasa bagi menjajah Emishi. Mahir dalam pertempuran berkuda dan memanah, wira puak clan warriors merupakan alat yang digemari Maharaja bagi mematahkan pemberontakan.

Semasa tempoh Heian, tentera maharaja dibubarkan dan kuasa maharaja beransur menjadi lemah. Walaupun maharaja masih merupakan pemerintah, puak-puak berkuasa disekeliling Kyoto mengambil kedudukan sebagai menteri dan sanak-saudara mereka membeli kedudukan sebagai hakim bagi mengumpul cukai. Untuk membayar hutang mereka dan mengumpul harta, mereka sering mengenakan cukai yang berat dan ramai petani terpaksa meninggalkan tanah mereka. Puak daerah ( Regional clans ) bertambah kuat dengan menawarkan cukai yang lebih rendah kepada rakyat mereka dan kebebasan dari kerahan tenaga ( conscription ). Puak-puak ini melengkapkan diri mereka untuk mematahkan puak dan hakim lain yang cuba mengutip cukai di kawasan mereka. Mereka akhirnya membentuk diri mereka kepada anggota bersenjata dan menjadi samurai.

Nama samurai datangnya dari pengawal istana maharaja dan pengawal persendirian yang digaji oleh puak-puak tersebut. Mereka bertindak sebagai polis dalam dan sekitar Kyoto. Anggota awal kepada apa yang dikenali sekarang sebagai samurai dilengkapi senjata oleh pemerintah dan perlu memahirkan diri dalam seni bela diri. Mereka merupakan Saburai, orang suruhan, tetapi kelebihan sebagai golongan bersenjata solo semakin menonjol. Dengan menjanjikan pelindungan dan mendapat kekuatan politik melalui perkahwinan politik mereka mengumpul kuasa yang akhirnya melebihi pemerintah bangsawan.

Sesetengah puak samurai berasal sebagai petani yang terpaksa mengangkat senjata bagi mempertahankan diri dari hakim yang dilantik maharaja untuk memerintah dan mengutip cukai di kawasan mereka. Puak-puak ini membentuk perikatan untuk mempertahankan diri mereka daripada puak-puak yang lebih berkuasa. Pada pertengahan zaman Heian, mereka telah menggunakan perisai dan senjata stail Jepun dan meletakkan asas kepada bushido, kod etik mereka yang terkenal.

[Sunting] Shogunate Kamakura dan Kebangkitan Samurai

Pada awalnya wira ini hanya merupakan tentera upahan yang digaji oleh maharaja dan puak bangsawan (kuge). Tetapi secara beransur-ansur mereka mengumpul kuasa yang mencukupi untuk melangkau kaum bangsawan dan menubuhkan kerajaan dikuasai samurai pertama.

Ketika puak-puak bahagian regional clans mengumpulkan sumber dan tenaga manusia dan membentuk pakatan sesama sendiri, mereka membentuk hieraki yang tertumpu kepada seorang ketua atau toryo. Ketua ini biasanya merupakan kerabat jauh maharaja dan ahli rendah kepada salah satu daripada tiga keluarga bangsawan (Fujiwara, Minamoto, atau Taira). Walaupun pada asalnya mereka dilantik ke daerah jajahan untuk tempoh tetap empat tahun sebagai hakim, toryo enggan kembali ke ibu negara selepas penggal mereka tamat. Anak mereka mewarisi kedudukan mereka dan terus memimpin puak-puak berkenaan bagi memadamkan pemberontakan seluruh Jepun dalam tempoh pertengahan ke akhir tempoh Heian.

Disebabkan kebangkitan kuasa ekonomi dan ketenteraan mereka, puak-puak tersebut akhirnya menjadi kuasa baru dalam politik istana. Penglibatan mereka dalam Pemberontakan Hogen pada akhir Heian hanya mengukuhkan kuasa mereka dan akhirnya melagakan saingan Minamoto dan Taira sesame sendiri dalam Pemberontakan Heiji 1160. Muncul sebagai pemenang, Taira no Kiyomori menjadi penasihat maharaja, wira pertama mendapat kedudukan sedemikian, dan akhirnya merampas kuasa kerajaan pusat untuk menubuhkan kerajaan yang dikuasai oleh golongan samurai yang pertama dan mengenepikan maharaja sebagai simbol sahaja. Bagaimanapun, golongan Taira masih lebih berdarah bangsawan berbanding puak Minamoto yang kemudiannya. Puak Taira tidak cuba memperluaskan atau memperkukuhkan kekuatan ketenteraannya, sebaliknya mengahwinkan wanita mereka dengan maharaja dan cuba mengawal melalui kuasa maharaja.

Taira dan Minamoto sekali lagi bertelingkah pada tahun 1180 bermula dengan Perang Gempei yang berakhir pada tahun 1185. Minamoto no Yoritomo yang merupakan pemenang meletakkan kelebihan kaum samurai melebihi kaum bangsawan. Pada tahun 1190 dia melawat Kyoto dan pada tahun 1192 menjadi Seii Taishogun, mengasaskan Shogunate Kamakura. Dia menubuhkan Shogunate di Kamakura berhampiran dengan pengkalan kuasanya dan bukannya di Kyoto.

Secara beransur-ansur, puak samurai yang berkuasa menjadi wira bangsawan (buke) yang terikat secara lemah pada bangsawan istana. Apabila kaum samurai mula mengambil adat bangsawan seperti kalligraph, puisi dan muzik, sesetengah bangsawan istana turut mempelajari kemahiran samurai. Walaupun melalui pelbagai mekanisma dan kecuali untuk tempoh pendek pemerintahan pelbagai maharaja, kuasa sebenar terletak di tangan shogun dan samurai.

[Sunting] Shogunate Ashikaga dan Tempoh Feudal

Pelbagai puak samurai berebutkan kuasa bagi Kamakura dan Shogunate Ashikaga.

Buddha Zen berkembang dikalangan samurai pada abad ke 13 dan ia membantu membentuk tingkah laku piawaian, terutama mengatasi takut kematian dan membunuh. Buddha Zen di Jepun mengambil Sakyamuni sebagai imej utama dan mengajar untuk mencapai buddha hidup dengan kesedara ( enlightenment ) melalui latihan bertafakur Zen. Sementara kebanyakan aliran Buddha dikalangan penduduk menjurus kepada Amitabha Tathagata, seseorang buddha dikatakan mampu membawa penganutnya ke syurga selepas kematian.

Pada abad ke 13, Yuan, negeri Cina dalam Empayar Mongol, menjajah Jepun sebanyak dua kali. Pihak Samurai yang tidak biasa bertempur secara berkumpulan menang tipis dalam pertempuran singkat pertama. Bagaimanapun, mereka lebih bersedia untuk pertempuran bagi penjajahan kali kedua dan mereka memusnahkan tentera Cina, Korea dan Mongol yang lebih besar tetapi tidak tersusun. Adalah dipercayai bahawa walaupun tanpa Kamikaze, mereka pasti berjaya mengundurkan penjajah tersebut. Pencapaian bagi pedang Jepun dicapai oleh seorang tukang besi bernama Masamune pada abad ke 14; struktur dua lapis besi keras dan lembut di ambil dan teknik tersebut tersebar dengan meluas dengan keupayaannya memotong dan ketahanannya ketika digunakan secara berterusan. Semenjak dari itu, pedang Jepun telah diakui sebagai senjata bawaan yang merbahaya semasa era pre-industri Asia Timur. Ia juga merupakan barangan eksport terpenting, sebahagian darinya sampai sejauh ke India.

Isu warisan menyebabkan pertelingkahan antara ahli keluarga kerana ( primogeniture ) menjadi biasa sementara pembahagian warisan ditentukan oleh undang-undang sebelum abad ke 14. Untuk mengelakkan pertelingkahan dalaman, penjajahan berterusan kepada jiran bersempadan dengan kawasan samurai digalakkan dan pertelingkahan sesama samurai merupakan masalah biasa bagi Shogunate Kamakura dan Ashikaga.

Sengoku jidai ("tempoh negara berperang") ditanda oleh kebudayaan samurai yang lebih longgar, dari satu segi. Mereka yang dilahirkan dalam golongan berlainan kadang kala mampu mencipta nama sebagai wira dan dengan itu menjadi de facto samurai. Dalam tempoh bergolak ini, ethik bushido menjadi faktor penting bagi mengawal dan mengekalkan keamanan awam.

Teknologi dan taktik peperangan Jepun bertambah elok dengan pantas pada abad ke 15 dan 16. Penggunaan tentera infantari yang dikenali sebagai Ashigaru , yang dibentuk oleh wira biasa atau rakyat, dengan Nagayari (長槍) atau tombak panjang diperkenalkan dan digabung bersama tentera berkuda dalam pergerakan. Jumlah penduduk yang terbabit dalam perperangan biasanya dalam beribu sehingga melebihi beratus ribu.

Harquebus atau senapang matchlock diperkenalkan oleh Lusitanians/Portugese melalui kapal lanun Cina pada tahun 1543. Jepun berjaya ( nationalization ) dalam tempoh satu abad. Kumpulan tentera upahan dengan harquebus dan rifle dihasilkan secara pukal memainkan peranan penting. Pada akhir tempoh feudal, beberapa ratus ribu rifle wujud di Jepun dan tentera yang besar melebihi 100,000 dihancurkan dalam pertempuran. Ini amat hebat, jika dibanding dengan tentera terbesar dan paling berkuasa di Eropah, iaitu tentera Sepanyol hanya mempunyai beberapa ribu rifle dan hanya mampu mengumpulkan sejumlah tentera seramai 30,000. Ninja juga memainkan peranan penting dalam aktiviti perisikan.

Pergerakan sumber manusia adalah mudah lentur, kerana apabila regim pemerintahan terdahulu runtuh dan samurai yang menggantikannya perlu mengekalkan organisasi tentera dan pentakbiran dalam kawasan pengaruh mereka. Kebanyakan keluarga samurai yang kekal sehingga abad ke 19 berasal dari kawasan ini.

Mereka mengistiharkan diri mereka sebagai keturunan salah satu dari empat puak bangsawan silam, Minamoto, Taira, Fujiwara dan Tachibana. Dalam kebanyakan kes, bagaimanapun, ianya sukar untuk membuktikan siapa leluhur sebenar mereka.

[Sunting] Oda, Toyotomi dan Tokugawa

Oda Nobunaga adalah bangsawan terkenal dari kawasan Nagoya (pernah dikenali sebagai Ohwari) dan contoh samurai luar biasa Tempoh Sengoku. Dia meletakkan asas penyatuan Jepun dan meninggal hanya beberapa tahun lebih awal dari penyatuan tersebut.

Oda Nobunaga mencipta organisasi dan taktik perang, bergantung kepada harquebus, membangunkan perdagangan dan menghargai ciptaan baru; kemenangan yang berikutnya membolehkan dia menjayakan penghapusan Shogunate Ashikaga dan perletakan senjata kuasa tentera sami Buddha, yang menyemarakkan perjuangan sia-sia dikalangan penduduk selama beberapa abad. Menyerang daripada "perlindungan" kuil Buddha, mereka merupakan masalah berterusan kepada sebarang bangsawan perang warlords termasuk maharaja yang cuba mengawal tindakan mereka. Oda Nobunaga meninggal pada tahun 1582 dalam serangan oleh salah seorang pengikutnya, Akechi Mitsuhide. Toyotomi Hideyoshi (lihat di bawah) dan Tokugawa Ieyasu, yang mendirikan Shogunate Tokugawa, merupakan pengikut setia Nobunaga. Hideyoshi yang dibesarkan oleh petani tidak dikenali menjadi salah seorang jeneral utama di bawah Nobunaga dan Ieyasu yang pernag berkongsi zaman kanak-kanak dengan Nobunaga. Hideyoshi menumpaskan Mitsuhide dalam tempoh sebulan dan dengan itu dianggap sebagai pengganti yang sah kerana berjaya membalas dendam keatas pengkhianatan Mitsuhide.

Kedua-dua mereka mendapat keuntungan dari kejayaan Nobunaga yang sebelumnya telah meletakkan asas untuk membentuk Jepun yang bersatu. Dengan itu terhasilah pepatah: "Penyatuan adalah kuih beras; Oda membuatnya. Hashiba membentuknya. Dan akhirnya, hanya Ieyasu merasainya." (Hashiba adalah nama keluarga yang digunakan oleh Toyotomi Hideyoshi semasa ia merupakan pengikut Nobunaga.)

Toyotomi Hideyoshi, yang menjadi menteri utama ( grand minister ) pada tahun 1586, dia sendiri berasal dari kalangan keluarga petani miskin, mencipta undang-undang yang menetapkan bahawa kasta samurai dimantapkan sebagai kekal dan diwarisi, dan mereka yang bukan dari golongan-samurai dilarang untuk membawa senjata.

Sangat penting bagi menyedari bahawa perbezaan antara golongan samurai dan bukan-samurai amat tipis sehinggakan pada abad ke 16, kebanyakan lelaki dewasa dalam kelas masyarakat (walaupun petani kecil) tergolong kepada sekurang-kurangnya satu organisasi tentera tersendiri dan berkhidmat dalam perperangan sebelum dan selepas pemerintahan Hideyoshi. Ianya boleh dikatakan bahawa keadaan "semua menentang semua" berkekalan selama satu abad.

Keluarga samurai yang disahkan selepas abad ke 17 merupakan mereka yang memilih untuk menurut Nobunaga, Hideyoshi dan Ieyasu dan mencapai kemenangan. Pertempuran besar-besaran yang meletus antara tempoh pertukaran regim, dan samurai yang kalah akan terhapus atau diserap kekalangan penduduk awam.

[Sunting] Shogunate Tokugawa

Semasa era Tokugawa, golongan samurai secara beransur-ansur menjadi bangsawan istana, kakitangan kerajaan, dan pentakbir berbanding sebagai perwira. Daisho, pasangan pedang samurai yang pendek dan panjang (cf. 'katana' dan wakizashi) beransur bertukar menjadi simbolik lambang kuasa dan bukannya senjata yang digunakan dalam kehidupan seharian. Samurai masih mempunyai hak untuk membunuh sebarang orang awam yang tidak menunjukkan rasa hormat terhadap mereka; bagaimanapun, tidak diketahui ketahap mana hak ini digunakan. Apabila kerajaan pusat Jepun memaksa daimyos untuk mengecilkan tentera mereka, ronin yang tidak bekerja menjadi masalah masyarakat.

Bushido telah dirasmikan oleh kebanyakan samurai pada tempoh aman ini sebagaimana Chivalry dirasmikan sebagai kesasteria apabila golongan perwira menjadi lapuk di Eropah. Tingkah-laku samurai menjadi contoh yang diikuti oleh penduduk Edo dengan penekanan kepada tingkah-laku formal. Dengan banyak masa terluang di tangan mereka, samurai meluangkan masa untuk melakukan minat lain den menjadi golongan terpelajar.

[Sunting] Samurai semakin lemah semasa pemulihan Meiji

The last hurrah of original samurai was in 1867 apabila samurai dari daerah Choshu dan Satsuma mengalahkan pasukan shogunate untuk menyokong pemerintahan maharaja. Kedua daerah tersebut merupakan tanah daimyos yang menyerah kepada Ieyasu selepas perang Sekigahara tahun (1600).

Sumber lain mendakwa bahawa samurai terakhir adalah pada 1877, semasa pemberontakan Satsuma dalam Pertempuran Shiroyama.

Anggota utama pemberontakan ini datangnya daripada golongan samurai rendah dari semua daerah. Matlamat utama mereka adalah serupa: mengekalkan kemerdekaan Jepun terhadap kuasa Barat. Tetapi kedua daimyo bertelingkah pada awalnya dan pertelingkahan berdarah ini berlarutan bertahun-tahun lamanya. Pada akhirnya, mereka menyedari bahawa perang saudara yang besar-besaran mesti dielakkan kerana inilah yang ditunggu-tunggu oleh kuasa asing ini. Dengan itu shogun Tokugawa Yoshinobu terakhir mengembalikan kuasa pemerintahan kepada maharaja untuk mengelakkan perperangan. Sesetengahnya masih menolak, mempercayai bahawa ini adalah coup d'etat oleh Choshu dan Satsuma dan kuasa kerajaan adalah sepatutnya ditangan mereka. Kumpulan samurai Tohoku menubuhkan penentangan bersenjata dan mereka akhirnya dihapuskan.

Emperor Meiji menghapuskan hak samurai untuk menjadi pasukan bersenjata tunggal digantikan dengan tentera kerahan cara barat yang moden. Samurai menjadi Shizoku (士族) yang mengekalkan gaji mereka tetapi hak mengenakan katana di jalan akhirnya dimansuhkan.

[Sunting] Post pemulihan Meiji

Dalam mentakrifkan Jepun moden, ahli kerajaan Meiji memutuskan untuk mengikuti langkah United Kingdom dan Jerman. Ia akan berasaskan konsep ketaatan bangsawan ( nobles oblige ) dan samurai tidak akan menjadi kuasa politik sepertimana di Prussia. Tentera Imperial Jepun ( Imperial Japanese Armies ) merupakan kerahan tetapi ramai samurai menawarkan diri menjadi askar dan ramai meningkat dan dilatih sebagai pegawai. Mereka yang menawar diri amat bersemangat dan rajin berlatih. Empayar Jepun memenangi Perang Sino-Jepun (1894) dan Perang Russia-Jepun (1904) dan ia boleh dikatakan bahawa pegawai dan mereka yang menawarkan diri merupakan sebab kemenangan tersebut. Kebanyakan tentera Cina dan Russia tidak dapat membaca dan menulis dan selepas pegawai mereka terbunuh, tentera ini berkecai dengan cepatnya.

Kebanyakan pelajar pertukaran adalah samurai, bukan kerana mereka samurai, tetapi ramai yang boleh membaca dan terpelajar. Sebahagian pelajar pertukaran ini memulakan sekolah swasta untuk pengajian tinggi. Sesetengah samurai mula menulis menggantikan senjata dan menjadi pemberita dan penulis dan mendirikan syarikat akhbar. Samurai yang lain pula menyertai perkhidmatan kerajaan kerana mereka boleh membaca dan terpelajar.

[Sunting] Budaya

Sebagai bangsawan mutlak selama beberapa abad, samurai memajukan budaya mereka sendiri yang menukar cara orang Jepun bertindak.

Seseorang samurai dijangka mampu membaca dan menulis, juga untuk mengetahui asas mathematik. Toyotomi Hideyoshi, seorang samurai agung yang bermula sebagai petani biasa, hanya mampu membaca dan menulis dalam hiragana dan ini adalah kelemahannya yang paling ketara. Sesetengah mengandaikan bahawa ini adalah punca dia tidak dilantik sebagai shogun. Samurai mesti, walaupun tidak diwajibkan, mempunyai minat dalam seni lain seperti menari, Go, penulisan, sastera, dan tea. Ota Dokan yang merupakan pemerintah pertama Edo menulis bagaimana dia malu apabila menyedari bahawa orang biasapun lebih mengetahui mengenai sastera berbanding dirinya dan ini menjadikan dia belajar dengan lebih tekun.

Kebudayaan samurai berbeza dari keringkasan yang di pengaruhi oleh Buddha Zen kepada bermewah-mewahan kebudayaan stail Kano. Kebanyakan samurai tinggal ringkas bukan kerana kecenderungan, tetapi keperluan. Apabila perdagangan berkembang pada tempoh Edo, samurai yang dibekalkan dengan beras sebagai sumber pendapatan berhadapan dengan harga melambung barangan biasa. Sesetengah samurai menghasilkan barangan kesenian dan yang lain bertani untuk menambah pendapatan. Samurai yang berpendapatan rendah ini masih meluangkan masa dan wang untuk mengajar anak-anak mereka menghargai pelajaran. Pada pertengahan tempoh Edo, samurai perlu dipaksa untuk berlatih kemahiran bela diri mereka. Terdapat cerita bagaimana samurai diancam dan terpaksa melarikan diri dari pekerja yang berbadan tegap, sesetengah yang lain kalah dalam perkelahian. Disebabkan samurai adalah pakar dalam perlawanan, masalah ini tidak pernah dilapurkan kerana malu tetapi kekal dirakamkan.

Dengan masa lapang yang mereka ada, ramai samurai mula mempelajari topik seperti arkhaeologi, botani, dan penulisan. Samurai memperkenalkan sayuran seperti ubi kentang dan sweet potato kepada petani yang kekal apathetic terhadap sayuran import ini. Samurai juga menyalin dan mengkaji rekod dan buku sejarah. Kojiki dan juga klassik Cina turut dikaji. Samurai juga mula mempelajari anatomi dan sains perubatan kerana minat dan bukannya untuk mencari cara lebih baik untuk membunuh. Pada akhir tempoh Edo, mereka menterjemah buku perubatan Belanda.

[Sunting] Nama Samurai

Seseorang samurai biasanya diberi nama dengan menggabung satu huruf kanji dari bapanya atau datuknya dan satu huruf kanji baru. Ramai samurai mempunyai bunyi nama phonetically yang serupa dengan leluhur yang mashyur sebagai penghormatan kepada keagungan mereka dan dengan harapan samurai ini akan mencapai kejayaan yang setaraf. Nama ini digunakan selepas upacara genpuku. Dia juga mempunyai nama kanak-kanak. Kebanyakan samurai mempunyai nama kedua dan juga menggunakan gelarannya sebagai sebahagian namanya. Oda Nobunaga secara rasminya digelar "Oda Kouzukenosuke Owarinokami Nobunaga" (織田上総介尾張守信長) dan dia juga dikenali sebagai "Oda Kouzukenosuke" atau "Oda Owarinokami".

[Sunting] Perkahwinan

Perkahwinan seseorang samurai dilakukan melalui perkahwinan yang diatur oleh seseorang yang sama atau lebih tinggi darjatnya dari mereka yang berkahwin. Bagi samurai yang berpangkat tinggi ini adalah keperluan kerana tidak ramai dari mereka berpeluang bertemu gadis, ini masih dilakukan sebagai adat bagi samurai berpangkat rendah. Kebanyakan samurai mengahwini wanita dari keluarga samurai tetapi bagi samurai berpangkat rendah, perkahwinan dengan orang biasa dibenarkan. Dalam perkahwinan ini, mas kawin diberikan oleh pihak wanita dan ini digunakan bagi memulakan penghidupan baru mereka.

Seseorang samurai dibenarkan mempunyai wanita simpanan tetapi latarbelakannya diperiksa dengan teliti oleh samurai berpangkat tinggi. Dalam kebanyakan kes, ia dilayan sebagai perkahwinan dan penculikan, biasa dalam kebanyakan fiksen, sekiranya tidak dianggap jenayah, dianggap memalukan. Sekiranya wanita tersebut orang biasa, utusan dihantar, dengan wang pertunangan atau nota pengecualian cukai, dan meminta diterima oleh keluarganya. Kebanyakan keluarga menerima dengan gembira, kerana sekiranya wanita tersebut melahirkan anak lelaki, dia boleh menjadi samurai.

Seseorang samurai boleh menceraikan isterinya disebabkan pelbagai sebab dengan kelulusan dari penyelia. Penceraian, walaupun berlaku, amat jarang. Sebab penting adalah jika dia tidak dapat melahirkan anak lelaki tetapi anak angkat boleh diaturkan. Seseorang samurai boleh bercerai disebabkan sebab tersendiri, walaupun hanya kerana dia tidak suka isterinya, tetapi ini biasanya dielakkan kerana ia akan memalukan samurai yang mengaturkan perkahwinan ini. Wanita juga boleh menguruskan perceraian, walaupun ini biasanya dalam bentuk diceraikan oleh samurai. Dalam kes perceraian, pihak samurai terpaksa memulangkan mas kahwin dan perkara ini sering menghalang perceraian. Sesetengah pedagang yang kaya akan mengahwinkan anak mereka dengan samurai sebagai balasan menghapuskan hutang samurai dengan bertujuan meningkatkan kedudukan mereka.

[Sunting] Warisan

Anak lelaki tertua pemerintah dahulu biasanya dilantik sebagai ketua seterusnya dalam sesuatu puak. Jika anak lelaki tertua meninggal sebelum diwarisi, anak tertua anaknya menjadi ketua seterusnya bagi puak tersebut. Jika anak tertua tidak mempunyai anak, anak kedua mewarisi kedudukan sebagai ketua. Aturan ini kadang-kadang ditukar bersesuaian dengan keinginan bekas ketua. Apabila ketua berikutnya terlalu muda atau tidak berpengalaman, saudara dan pengikut ketua sebelumnya bertindak sebagai ketua sehingga kuasa pemerintahan boleh diserahkan. Pembahagian kerajaan menjadi popular pada tempoh Kamakura dan Ashikaga tetapi beransur kurang kemudiannya kerana ia sering melemahkan puak tersebut.

Ramai samurai menukar nama mereka bukan kerana tidak gemarkannya, tetapi kerana mereka diambil oleh puak lain. Perkara ini dilakukan berasaskan banyak sebab. Yang pertama dan paling penting adalah kebanyakan puak inginkan pengganti yang mempunyai kemahiran dan kebolehan tinggi walaupin ini bererti menyingkirkan anak ketua sebelumnya. Jika pengganti tersebut datangnya dari puak yang lebih penting adalah lebih baik. Walaupun perkara ini perlu diluluskan oleh shogunate atau daimyo pada Tempoh Edo, ia sering berlaku. Apabila ketua sebelumnya meninggal tanpa anak lelaki tetapi dengan gadis, adalah perkara biasa bagi mengambil samurai dari puak lain kedalam puak itu dan mengahwinkan dia dengan anak gadis bekas ketua dahulu.

Samurai mempunyai ramai anak berhadapan dengan penyakit dan perperangan dan ini sering menyebabkan masalah warisan. Kadang-kala perkara ini mendorong kepada seluruh puak menjadi lemah atau berpecah dan menuju kehancuran. Beberapa langkah diambil bagi mengelak masalah ini. Masuk kepuak yang lain adalah satu cara, dan cara lain dikenali sebagai Koukaku harafiah. turun pangkat, dimana seseorang anak lelaki diberikan nama puak baru dan menjadi pengikut dan anak buah ( retainer and a vassal ) abang mereka. Sesetengah samurai mungkin juga menjadi pedagang atau petani disebabkan oleh Koukaku.

[Sunting] Falsafah

Falsafah Buddha dan Zen, dan pada tahap yang lebih kecil Konfusian mempengaruhi kebudayaan samurai termasuk Shinto. Meditasi menjadi ajaran penting dengan menawarkan proses untuk menenangkan fikiran seseorang. Konsep Buddha kelahiran semula ( reincarnation ) dan kelahiran semula ( rebirth ) mendorong samurai untuk meninggalkan pembunuhan rambang dan penyiksaan. Sesetengah samurai bersara dari menjadi samurai dan menjadi sami Buddha selepas menyedari betapa sia-sia mereka membunuh.

Bushido, dimantapkan semasa tempoh Edo, adalah cara hidup samurai tetapi caranya yang ringkas mengelirukan mendorong kepada banyak pertikaian mengenai pemahamannya. Hagakure: The Book of the Samurai oleh Yamamoto Tsunetomo adalah buku panduan mengenai cara hidup samurai way of the samurai. Walaupun ketika diterbitkan, ia menimbulkan beberapa penelitian reviews yang mengkritik pemahaman tegas dan tidak mesra impersonal. Sekiranya seseorang tuan lord salah, sebagai contoh dia memerintah menyembelihan orang awam, patutkah dia dipatuhi ketaatan untuk menyembelih seperti yang diperintahkan atau dia patut mematuhi Rectitude untuk membenarkan orang awam lepas lari? Jika seseorang mempunyai keluarga yang sakit tetapi melakukan kesilapan yang tidak dapat diperbetulkan, patutkah dia memelihara Kehormatannya dengan melaksanakan Seppuku atau dia patut menunjukkan Keberanian dengan hidup terhina dan menjaga keluarganya?

Kejadian Empat puluh tujuh Ronin telah menimbulkan pertikaian mengenai apakah tepat tindakan mereka dan bagaimana bushido perlu dilaksanakan. Secara tidak langsung, mereka telah membelakangi shogun dengan mengambil tindakan tersendiri tetapi ia juga merupakan adalah tindakan Ketaatan dan Rectitude. Akhirnya, tindakan mereka dipersetujui sebagai Rectitude tetapi bukannya Ketaatan kepada shogun. Ini menjadikan mereka penjenayah dengan kesedaran ( conscience ) dan layak untuk melakukan seppuku.

Penjelasan mengenai shudo dalam Hagakure menjadi isu hangat ( highly controversial ) walaupun pada masa di mana perlakuan sebegitu adalah biasa. Ia menjelaskan salah satu kelakuan samurai cinta platonik ( platonic love ) yang kadang-kala merupakan hubungan homoseksual antara samurai. Walaupun ini tidak dianggap jenayah pada masa itu dan tidak dilarang secara jelas oleh agama mereka, pemikiran bahawa sesetengah samurai mendapat pangkat melalui daya seksual sudah cukup untuk menyebabkan kekecohan. Samurai bukannya pelacur dan mereka mendapat pangkat melalui kemahiran dan keupayaan mereka dan bukannya dengan tidur bersama.

Buku kenjutsu paling terkenal pada masa itu, atau penggunaan pedang, bertarikh dari tempoh ini (Miyamoto Musashi The Book of Five Rings, 1643). Tetapi sebahagian besar buku ini menumpu kepada keadaan pemikiran bertempur ( mentalities of fighting ). Kebanyakan buku kenjutsu dari tempoh Edo juga memusat kepada segi kerohanian spiritual aspects selain untuk mematuhi arahan bahawa latihan kenjutsu adalah untuk membina watak seseorang samurai.

[Sunting] Samurai dalam Cereka

Pelakun Kotaro Satomi di set Mito Komon

Jidaigeki harafiah. drama sejarah merupakan keluaran utama bagi wayang dan drama TV semenjak awal lagi. Ia biasanya memaparkan samurai dengan kenjutsu yang menentang samurai dan pedagang zalim. Mito Komon (水戸黄門), cereka mengenai pengembaraan Tokugawa Mitsukuni, merupakan drama TV popular di mana Mitsukuni mengembara secara menyamar sebagai pedagang kaya bersara bersama dua orang samurai tidak bersenjata yang turut menyamar sebagai teman. Dia berhadapan dengan masalah dimana sahaja dia pergi, dan selepas mengumpul maklumat, dia dan samurainya knock around unrepenting evil samurai and merchants. Dia kemudiannya mendedahkan identitinya yang, jika dia mahu, boleh memusnahkan seluruh puak dan pesalah tidak mempunyai pilihan kecuali menyerah dan berharap hukumannya tidak dilanjutkan merangkumi keluarga mereka.

Karya bertema samurai pengarah filem Akira Kurosawa adalah yang paling dikagumi dalan jenis itu, mempengaruhi ramai pembuat filem dengan teknik dan cara penceritaannya. Hasil kerjanya yang terkenal termasuk The Seven Samurai, dalam mana penduduk kampuny yang terancam menggajikan sekumpulan samurai yang mengembara untuk melindungi mereka daripada penjahat; Yojimbo, di mana bekas samurai membabitkan dirinya dalam peperangan kumpulan gang war dalam bandar dengan berkhidmat dengan kedua pihak; dan The Hidden Fortress, dalam mana dua petani bodoh mendapati diri mereka membantu seorang jeneral yang terkenal untuk mengiringi seorang puteri ke tempat selamat. Yang terakhir merupakan sumber inspirasi utama bagi cerita Star Wars, oleh George Lucas, yang turut meminjam beberapa aspek dari samurai, seperti watak Jedi Knight dalam Star Wars.

Filem Samurai dan filem Barat Western movie berkongsi beberapa persamaan, dan keduanya mempengaruhi sesama sendiri sepanjang beberapa tahun itu. Kurosawa mendapat inspirasi dari hasil pengarah John Ford, dan sebaliknya, hasil kerja Kurosawa telah dihasilkan semula dalam cerita barat, seperti The Seven Samurai kepada The Magnificent Seven dan Yojimbo kepada A Fistful of Dollars.

Satu lagi siri cereka tv, Abarembo Shogun, membariskan Yoshimune, Tokugawa shogun kelapan. Samurai dari semua peringkat dari shogun kepada peringkat bawahan, termasuk ronin, ditonjolkan dengan jelas dalam cereka ini.

[Sunting] Bacaan lanjut

* Eiko Ikegami: The Taming of the Samurai: Honorific Individualism and the Making of Modern Japan. Cambridge, MA: Harvard University Press. 1995. ISBN 0674868080.
* Hiroaki Sato: Legends of the Samurai
* Stephen Turnbull: The Book of the Samurai
* Stephen Turnbull: The Samurai (butir-butir sejarah yang lebih lanjut)

[Sunting] Pautan luar

* Arkib-arkib samurai
* Cara indah samurai: Sebuah karangan mengenai amalan pendidikan samurai yang melibatkan hubungan cinta di antara samurai yang berbeza usia.
* Gusokuyagura Tapak jaring yang mengandungi gambar-gambar baju besi yang diguna oleh samurai.

[Sunting] Lihat juga

* Senarai samurai
* Samurai (penggodaman)
* Sumber Samurai
* Perintah-perintah Kato Kiyomasa
* The Last Samurai (filem)


URL http://ms.wikipedia.org/wiki/Samurai

Katana

Katana
From Wikipedia
Jump to: navigation, search

Katana (刀) adalah pedang panjang Jepun (daitō, 大刀), walaupun ramai penduduk Jepun menggunakan perkataan ini sebagai merujuk kepada semua jenis pedang. Katana (disebut sebagai [katana]) adalah kunyomi (Sebutan Jepun) bentuk kanji 刀; onyomi (Sebutan Cina) adalah tō. Ia merujuk kepada pedang satu mata, melengkung yang khusus yang secara tradisi digunakan oleh samurai Jepun.

Senjata ini biasanya dipakai oleh ahli kelas pahlawan buke berpasangan dengan wakizashi, atau pedang pendek. Kedua-dua senjata secara bersama, dikenali sebagai daisho, dan melambangkan kuasa masyarakat dan maruah samurai (buke pengiring kepada daimyo). Sarung senjata scabbard bagi katana dikenali sebagai saya, dan kepingan pelindung tangan, yang direka halus sebagai hasil seni yang unik terutama pada akhir tempoh Edo, yang dikenali sebagai tsuba.

Katana biasanya digunakan untuk memotong (walaupun ia boleh digunakan untuk menikam), dan boleh digunakan dengan menggunakan satu atau dua belah tangan. (dua belah tangan lebih biasa). Katana biasanya dikenakan dengan mata pedang sebelah atas. Sementara kesenian menggunakan pedang untuk tujuan asalnya kini telah lapuk, kenjutsu telah bertukar menjadi gendai budo - kesenian bela diri untuk masa kini. Kesenian menghunus katana adalah iaido (juga dikenali sebagai battō-jutsu atau iaijutsu), dan kendo adalah seni berpedang dengan shinai (pedang buluh) dengan perlindungan topi dan perisai, tambahan lagi, iaijutsu adalah bentuk bermain pedang di medan pertempuran. Sekolah pedang koryu lama masih wujud (Kashima Shinto Ryu, Kashima Shin Ryu, Katori Shinto Ryu).

Lihat juga tsurugi, tachi, wakizashi, tsuba, saya, zanbatou, iaito, bokken, shinai, shinken.





Jadual isi kandungan
[sorok]

* 1 Pedang sebagai objek dongengan Mystical Object
* 2 Sejarah pedang Jepun
* 3 Pengkelasan pedang Jepun
* 4 Penghasilan
o 4.1 Komposisi

[Sunting] Pedang sebagai objek dongengan Mystical Object

Walaupun samurai klassik membawa atau mempunyai pelbagai senjata (sekurang-kurangnya panah dan tombak, sebagai tambahan kepada pedang mereka, hanya satu yang dianggap semangat samurai: katana (atau tachi). Orang-orang Jepun meletakkan nilai yang tinggi kepada pedang. Dalam kebanyakan sejarah Jepun, hanya samurai dibenarkan membawa pedang, dan petani yang membawa pedang boleh dibunuh dan pedangnya dirampas selepas larangan itu dikenakan pada awal tempoh Edo.

Kebanyakan kebudayaan Jepun berkisar sekeliling pedang. Kaedah yang rumit untuk membawa, membersihkan, menyimpan, mengasah (atau tidak mengasah), dan mengendalikan pedang berubah dari era ke era.

Sebagai contoh, seseorang samurai yang memasuki rumah seseorang perlu memikirkan cara meletakkan pedang bersarungnya semasa melutut. Meletakkan pedangnya pada kedudukan mudah dihunuh menggambarkan rasa syak dan bersedia untuk menghunus; dengan itu samaada dia meletakkannya pada sebelah kiri atau sebelah kanan, dan samaada mata bilah diletakkan melengkung kearah atau menjauhi dirinya adalah adab etiquette penting. Sebagai hos, pedang panjangnya biasanya diletakkan dibawah wakizashi pada para rendah, melengkung keatas; jika ia melengkung kebawah, atau disimpan di atas wakizashi, ini bererti pemiliknya bersedia untuk menghunusnya dengan cepat - tanda syak wangsangka terhadap sebarang tetamu.

Bagaimanapun, kebanyakan samurai menggunakan pedang mereka sebagai usaha ketiga: pertama panah, kedua tombak dan akhir sekali pedang. Ini kerana, menghunus pedang adalah bagaikan membebaskan semangat seseorang atau kemungkinan besarnya terdesak kepada jalan terakhir. Untuk bertempur sehingga tiada apa yang tinggal kecuali menyerah , ditakrifkan sebagai Ken ore, Ya mo tsuki, harafiah. dengan pedang patah dan tanpa anak panah, dan ia juga digunakan sebagai perumpamaan.

[Sunting] Sejarah pedang Jepun

Pedang adalah penting dalam kebanyakan kebudayaan feudal, dan Jepun tidak berkecuali. Pada abad ke enam BCE, maharaha Jepun Jimmu Tenno yang terkemuka menakluk sebahagian besar Jepan. Pada masa yang sama, Jepun mengambil idea mengenai pedang dari Cina. Pedang awal hanyalah salinan dari pedang Cina, lurus dan bermata dua, tetapi perperangan yang berlarutan ( warring stability ) pada tempoh Asuka menggalakkan kemajuan dalam bidang persenjataan.

Rekod pertama penghasilan pedang melengkung, bermata satu 'stail Jepun' (berbeza dengan 'Stail Cina') adalah sekitar 900 CE, tetapi ia telah digunakan lama sebelum itu.

Menurut lagenda Jepun, pedang Jepun dicipta oleh pandai besi bernama 'Amakuni' pada 700 CE, bersama denga proses lipatan besi. Pada masa yang sama istilah samurai telah mula digunakan.

Pada abad ke dua puluh, perang saudara meletus selepas tempoh kemerosotan yang lama. Selama lima dekad, Jepun mempunyai zaman kegelapannya sendiri, dipenuhi dengan perperangan dashyat yang berterusan. Perang Onin (1467-1477) mengrevolusi senjata dan perisai Jepun, ke tahap yang sehinggakan ia dianggap lebih berkualiti berbanding yang dibuat masa kini.

Semasa zaman Muromachi, perperangan berdarah adalah kebiasaan, tetapi shogun yang memerintah indolent shogunates masih menghargai seni dan kebudayaan, dengan itu pulau Jepun tidak merosot menjadi liar. Malah pedang dari pertengahan zaman ini dianggap kemuncak seni pembuatan pedang. Bagaimanapun, dengan perubahan masa, kesenian tersebut merosot dengan tekanan pengaruh senjataapi, yang menjadikan pedang sebagai senjata lapuk.

Pembuatan pedang terus merosot pada awal tempoh Edo, kerana perang jarang berlaku; bagaimanapun, seni berkembang pesat, mendorong kepada ukiran dan hiasan senjata yang cantik. Kemudiannya, di bawah polisi pengasingan isolationism Tokugawa Shogunate, senjataapi dan ubat bedil sematin terkawal dan tidak diperdagangkan. Pada pertengahan abad ke lapan belas, kebanyakan pemuda Jepun tidak pernah melihat senjata api, apa lagi melihat senjataapi digunakan.

Kuasa samurai (dan kualiti penghasilan pedang) hampir pupus di bawah pengaruh kuasa senjata api, tetapi ia masih kekal disebabkan kesetiaan kepada cara silam dan ingatan kepada cara lama. Kuasa samurai adalah kuat pada tempoh Edo, dan kesenian penghasilan pedang yang hampir hilang, perlahan-lahan beransur pulih. Pada akhir tempoh ini, kualiti pedang bertambah baik sehinggakan ia tidak lagi digelar 'shinto', tetapi dengan panggilan lebih hormat 'shin-shinto'.

Jepun kekal sebegitu sehinggalah Komander Matthew Perry tiba pada 1853 dan Persidangan Kanagawa yang memaksa pembukaan Jepun pada dunia luar; yang tidak lama kemudian diikuti dengan permodenan pantas oleh pemulihan Meiji.

Pengistiharan Haitorei pada tahun 1876 hampir mengharamkan pedang dan senjata api, melumpuhkan golongan samurai. Bagaimanapun, kebangkitan terhadap pengistiharan ini dan pemerintahan tentera mengakibatkan meledaknya semangat kebangsaan dan sokongan terhadap maharaja yang sebelum ini hanyalah sekadar lambang.

Ketika Perang Dunia I, Jepun adalah setaraf dengan kuasa dunia dari segi ketenteraan. Bagaimanapun secara umu, ia juga menandakan berakhirnya zaman samurai kerana senjata api turut diperkenalkan kembali. Ia juga menandakan tempoh kemerosotan dalam kualiti penghasilan pedang, apabila katana secara beransur digantikan dengan gunto: pedang saber murah untuk pegawai tentera laut.

Di bawah pendudukan Amerika Syarikat pada akhir Perang Dunia II golongan samurai dibubarkan sama sekali dan pedang diharamkan . Hanya pedang yang merupakan khazanah seni, yang tidak boleh dikeluarkan dari muzium atau kuil dibenarkan.

Disebabkan oleh perlucutan senjata ini, pada 1958 terdapat lebih banyak pedang Jepun di Amerika Syarikat berbanding yang kekal terdapat di Jepun: Tentera Amerika yang kembali dari Orient dengan timbunan pedang, sebanyak yang mungkin. Sebahagian besar daripada lebih 100,000 pedang adalah dari jenis gunto, tetapi terdapat juga sebilangan daripadanya dari jenis shin-shinto.

Ini melambangkan cabaran terakhir pada kuasa samurai pada abad terkini. Bagaimanapun, penghasilan pedang berterusan kembali, walaupun ini disebabkan oleh keperluan budaya dan bukannya disebabkan oleh peperangan.

[Sunting] Pengkelasan pedang Jepun

Semua pedang Jepun dihasilkan menurut kaedah ini dan mempunyai bentuk yang agak sekata. Apa yang membezakan pedang yang berlainan adalah panjangnya. Pedang Jepun diukur dalam unit "Shaku". Satu shaku sekitar 12" atau 30 cm.

* Bilah yang lebih pendek dari 1 shaku dianggap tanto (pisau).
* Bilah yang lebih panjang dari 1 shaku tetapi kurang dari 2 dianggap wakizashi (pedang pendek).
* Bilah yang lebih panjang dari 2 shaku dianggap 'daito', atau pedang panjang. Pedang 'katana' termasuk dalam kelas ini. Bagaimanapun, istilah 'katana' sering disalah gunakan: sesuatu pedang hanya dianggap katana sekiranya ia dikenakan dengan mata keatas melalui ikat pinggang (biasanya diiringi dengan wakazashi atau tanto). Jika ia digantung dengan ikatan dari pinggang, ia dikenali sebagai 'tachi'.
* Mata bilah yang luar biasa panjang, dipakai menyendeng dibelakang, dikenali sebagai ōdachi atau nodachi. 'ōdachi' juga digunakan seerti dengan katana.
* Perlu juga disedari bahawa terdapat banyak jenis pedang kayu untuk tujuan latihan, termasuk jenis diperbuat daripada kayu(bokken) dan yang diperbuat daripada buluh (sering digunakan untuk latihan kendo, biasanya dirujuk sebagai shinai).

Itu adalah cara membezakan mereka menurut saiz, dan dibawah pula adalah bagaimana mengbezakan pedang Jepun menurut tarikh pengbuatan:

* sebelum 900: Lurus dengan dua mata, seperti pedang Cina pada era yang sama, ini boleh dikatakan sebagai 'Stail Cina' Chinese Style.
* 700-1500: 'Koto': jenis ini dianggap kemuncak seni pedang Jepun. Model awal mempunyai lengkungan tidak sekata dengan dengan lengkungan paling besar pada bahagian pangkal.
* 1500-1867: Diejek dengan geleran 'shinto', atau 'pedang baru'. Pedang ini dianggap kurang bermutu berbanding koto, dan bersamaan masa dengan kemerosotan dalam kemahiran penghasilan pedang.
* 1867+: Jika berbentuk koto, ia dikenali sebagai 'shin shinto', atau 'pedang baru dihidupkan semula' (harafiah: 'pedang baru yang baru'). Ia dianggap lebih berkualiti berbanding shinto, tetapi kurang berbanding koto.
* 1876+ (selepas-pengistiharan Haitorei): Sebarang bilah yang dihasilkan secara pukal diejek sebagai 'gunto'. Ini sering kali berbentuk pedang saber Barat berbanding katana, walaupun terdapat banyak pedang baru (1970+) yang dibuat agar kelihatan menyerupai katana, tetapi dihasilkan secara pukal.

Untuk mengkelaskan cara pedang dikenakan:

* sebelum 1500: Kebanyakan pedang digantung dengan ikatan pada pinggang, mata kebawah. Stail ini dipanggil 'jindachi-zukuri', dan semua daito dipakai menurut cara ini dikenali sebagai 'tachi'.
* 1500-1867: Hampir semua pedang dikenakan pada ikat pinggang ( sash ), berpasangan dengan pedang pendek. Kedua bilah dikenakan mata ke atas. Stail ini dikenali sebagai 'buke-zukuri', dan semua daito dikenakan cara ini adalah 'katana'.
* 1876+: Disebabkan pengharaman dan/atau pembubaran golongan Samurai, kebanyakan bilah dikenakan menurut cara jindachi-zukuri, seperti pegawai tentera laut Barat. Baru-baru ini (1953+) terdapat kebangkitan semula stail buke-zukuri, tetapi oleh kerana pedang hanya dibenarkan untuk tujuan pertunjukan demonstration, ia tidak begitu penting.

Nota sisi: pedang yang dikhususkan sebagai tachi secara umumnya adalah koto bukannya shinto, dengan itu ia dihiasi dan dihasilkan dengan lebih baik. Bagaimanapun ia masik bergela katana jika dikenakan menurut cara 'buke-zukuri' moden.

Nota sisi tambahan: kebanyakan pelbagai jenis lembing dilengkapi dengan bilah yang dihasilkan menurut stail yang sama dengan pedang Jepun. Walaupun sering diketepikan dalam penulisan Barat, lembing merupakan senjata pertama bagai sebarang samurai ataupun petani, dan bilah pada mata lembing samurai seringkali berkualiti tinggi. Bagaimanapun, walaupun begitu, pedang masih dianggap sebagai semangat samurai, bukannya lembing.

[Sunting] Penghasilan

Pedang Jepun dan senjata bermata yang lain sering dihasilkan melalui kaedah rumit memanaskan, melipat, dan mengetuk logam berulang kali. Kaedah ini berasal dari penggunaan logam tidak tulen, akibat suhu rendah yang terhasil pada kaedah peleburan logam pada masa itu di situ. Untuk mengatasi masalah tersebut, dan untuk menyeragamkan homogenize kandungan karbon pada bilah (memberikan sesetengah bilah ciri-ciri pola berlipat), kaedah melipat dimajukan (untuk perbandingan lihat pola kimpalan pattern welding )), dan didapati agak berkesan, walaupun memakan tenaga manusia yang banyak. Berbeza dengan kepercayaan popular, kaedah ini tidak menghasilkan bilah yang mempunyai kekuatan tambahan. Proses melipat mata bilah berulang kali bertujuan menulenkan logam.

Lengkungan jelas pada katana sebahagiannya disebabkan oleh proses perbezaan celupan ( quenching ). Belakang pedang disalut dengan tanah liat, mengasingkannya dan dengan itu menyebabkan ia sejuk lebih perlahan berbanding mata apabila mata bilah direndam. Kaedah ini menghasilkan mata bilah dengan tepi yang keras dan belakang yang sejuk, membenarkannya menjadi kenyal dan pada masa yang sama masih mengekalkan mata tajam untuk memotong yang elok.

Proses ini juga menjadikan mata bilah mengucup kurang berbanding bahagian belakang apabila sejuk, satu keadaan yang membantu pandai besi menentukan lengkungan sesuatu bilah. Sebagaimana mata bilah yang melengkung lain (contohnya. saber, scimitar, dan machete), lengkungan ini menjadikan bilah tersebut sebagai senjata memotong yang lebih berkesan dengan menumpukan kesan hentaman pada sebahagian kecil kawasan; bagaimanapun, ia mengurangkan keberkesanannya sebagai senjata tikaman.

Proses penghasilan akan dijelaskan dengan lebih teperinci dalam subseksyen berikut.

[Sunting] Komposisi

Besi Jepun tradisional dianggap sebagai bahan terbaik untuk menghasilkan pedang. Komposisi sepenuhnya berbeza antara pandai besi dengan pandai besi dan satu penghantaran bijih dengan yang lain.

Salah satu formula moden (dari Perang Dunia II) memerlukan:

komposisi: 0.04% molybdenum
0.05% tungsten
0.02% titanium
1.54% tembaga
0.11% manganese
0.1% to 3% karbon
jumlah silika berbeza
dan beberapa bekas (sediki) bahan lain
Besi adalah bakinya (membentuk sebahagian besar besi waja).

Peratusan besar karbon memberikan bilah kekuatan, sementara silikon meningkatkan kelenturan mata bilah termasuk keupayaannya menangani ketegangan. Katana direka untuk memotong daging, oleh itu komposisi ini tidak selalunya mencukupi untuk menembusi perisai.



URL http://ms.wikipedia.org/wiki/Katana

JAPANESE GENDAI SWORDSMITHS

shingunto

GENDAI SWORDSMITHS
AND OTHER SWORDSMITH INDEXES

There were hundreds, perhaps thousands, of swordsmiths working from 1868 until 1945. The great majority worked during the 1930's and 1940's. Swords made during the WW II era encompass all types from totally machine made to those made in completely traditional Nihonto manner. It is sometimes quite difficult for beginners to distinquish between swords made from bar stock and oil tempered, and those made by traditional methods (gendaito, kindaito).

SWORDSMITH INDEXES

Rikugun Jumei Tosho are those swordsmiths approved by the Japanese Army to produce swords for military officers. This index is divided into two parts; known swords with star stamps on the nakago and a listing of Jumei Tosho smiths from literature sources. Chris Bowen has done extensive research on gendai (kindai) smiths from the Tokyo region who worked during the WW II era. He has published a list of these swordsmiths as a prelude to his book on the same subject. With his kind permission, the Tokyo Kindai Tosho Index is available here. Part of the index contains a list of the members of the Nihon To Tanren Kai; those smiths that worked at the Yasukuni Shrine. The index lists both Romanji (English) names and Kanji of swordsmiths; however, to read the Kanji a Japanese character converter such as NJWin or a Japanese word processor is needed. All the smiths in Bowen's Index made swords in the traditional manner (gendaito, kindaito).

Three other indexes of swordsmiths, the Gendai Toko Meikan, the Gendaito Meisaku Zukan and the Toko Taikan have been translated and compiled by Tony Thomas. They are available here with his permission. I have abstracted the Toko Taikan index for all listed gendai swordsmiths. All indexes give the Romanji (English) names of a large number of gendai smiths, but do not include name Kanji. Lacking the proper Kanji makes using these indexes speculative for identifying a specific smith as there are commonly several Kanji which can correspond to a given Romanji (English) translation. The complete Toko Taikan Index includes koto, shinto and shinshinto as well as gendai swordsmiths. The complete Toko Taikan Index is too large to post in text format. It is available only in ZIP format. The NTT/NTS Showa List, courtesy of Kenji Mishina, is a list of Showa era swordsmiths published in 1943 by the Nihon Token Tanren-jo and Nihon Token Shinbun-shi using the ranking system then in use for ranking sumo wrestlers. The Koto Taikan Index also lists swordsmiths of all eras was prepared by Clive Sinclaire and is likewise used here with his permission. Due to its size, the Koto Taikan Index is available only in ZIP format. The Nihonto Newsletter Index, prepared by Ron Hartmann, is for the five volume set of compiled newsletters authored by Albert Yamanaka and published by the JSSUS. Alan Bale has done an index to Token Bijutsu, the NBTHK Journal.

Use the search in page or find in page functions of your browser to quickly determine if a specific swordsmith is listed in one of these indexes once you have loaded the index page. Use the Search Engine to search this entire site for a specific swordsmith or other topic or term.

SWORDSMITH INDEXES
Rikugun Jumei Tosho
Tokyo Kindai Tosho
Gendai Toko Meikan Index
Gendaito Meisaku Zukan Index
Toko Taikan Index (Gendai Only)
Showa Seki Tosho
Showa Tosho Rankings
Toko Taikan Index (Zip format)
Koto Taikan Index (Zip format)
Nihonto Newsletter Index (Zip format)
Token Bijutsu Index (Zip format)
Ritsumeikan Swordsmiths
NTT/NTS Showa List
Gendai Mino Swordsmiths
Undocumented Showa Smiths

Kikusui stamp

MINATOGAWA SHRINE SWORDS
masataka

kanji

The Minatogawa Shrine or Minatogawa Jinja was established in 1941 by the Japanese Navy to produce swords for distribution through the Japanese Naval Academy. The head swordsmith was Kasame Moriwaka (Masataka). Masataka first signed his swords as either Michimasa or Morimitsu, but adopted the name Masataka and the kikusui mon upon the establishment of the Shrine. The Minatogawa Jinja smiths produced true gendaito. The swords of the Minatogawa Jinja are normally designated with a kiku-sui mon (chrysanthemum on water) above the swordsmith's signature. One unusual early sword of this group is signed: Oite Minatogawa Jinja Michimasa, dated 1941, and lacks the kikusui mon. That blade has received a Hozon origami from the NBTHK. It is believed that all smiths of this group used Masa as the first character of their name. The signature (mei) normally reads "Minatogawa Jinja Masa----". Some of the smiths working at the Minatogawa Jinja were Moriwaka Masataka (oshigata at right courtesy of Ron Polansky), Masahide, Ito Masakiyo, Masuda Masaaki, Murakami Michimasa Masatada, Fujiwara Masayoshi, Okada Masanao, Masamitsu (Fujita Masami) and Unshu Norimasa (Bando Norimasa). Minatogawa swords are very well made and much sought after by collectors; there being very few of them made.

There are several blades known made by Noshu Seki 23rd Generation Kanefusa which have the kiku-sui mon carved as a horimono on the blade (not on the nakago). These blades were not made at the Minatogawa Jinja Tanrensho and have no known connection with it. These swords probably were a special order from a group of Naval officers or a Naval officer's association.

Herman Wallinga's article Gendaito Made at the Minatogawa Shrine, published in the Japanese Sword Society of the United States Journal (volume 33, number 3, 2001) is the definitive English language reference for blades of the Minatogawa Shrine.

GENDAI SWORDSMITHS PAPERED
BY THE NBTHK OR NTHK

One aid in determining whether or not a blade is made in traditional manner, i.e. is a true gendaito, is the issuance of origami (papers) by either the Nihon Bijutsu Token Hozon Kai (NBTHK) or the Nihon Token Hozon Kai (NTHK). While all gendai smiths have not received origami, one can be assured that the blades by "papered" smiths are true gendaito. Most Yasukuni Shrine swords have received origami from either the NTHK or the NBTHK and are classed as gendaito. The same is true for the blades of the Gassan School.

* Awa Kuni Akifusa
* Kurihara Akihide
* Miyairi Akihira
* Chounsai Emura
(aka: Emura, E )
* Enshin
* Hori Hideaki
* Ichiryushi
(aka: Ichihara Nagamitsu )
* Shibata Ka
* 23rd Gen. Fujiwara Kanefusa
* Noshu Seki ju Kanekuni
* Zenjo Kanekuni
* Kojima Kanemichi ( Gifu )
* Hizen Motomura Kanemoto
* Mino Kuni Seki ju nin
Watanabe Kanenaga
* Noshu ju Tanba Kanenobu
* Miyamoto Kanenori
* Seki ju Kanematsu Kanetatsu
* Noshu Kanetoshi
(aka: Murayama Kinoichi )
(Ichimonji Murayama Kanetoshi)
* Noshu Seki ju Fujii Kaneuji
* Seki Yoshida Kaneuji
* Kaneyoshi (Kosaka Kinbei)
* Hoki Ju Kanetani Katsumasa
* Osamura Kiyonobu
(aka: Nagamura Kiyonobu)
* Bungo Iiitano (?) ju Kunihide
* Yoshihara Kuniie



* Yoshihara Kuninobu
* Minatogawa Masaaki
* Hizen kuni Ikari Masaharu
* Aizu ju Sekimuto Masahiro
* Amatsu Masakiyo
* Minatogawa Masakiyo
* Sumitani Masamine
* Masanori ( Osaka )
* Hizen kuni Masatsugu
* Echizen Kuni Mitsuoki
* Endo Mitsuoki
* Munetoshi
* Ichihara Nagamitsu
(aka: Ichiryushi)
* Kuruma ju Nagamitsu
* Seishinshi Nagatoshi
* Hokke Saburo Nobufusa
* Takayashi Nobuhide
* Chikushu Nobumitsu
* Sa Nobumitsu
* Moritsugu Norisada
* Tsukamoto Okimasa
* Gassan Sadakatsu
* Gassan Sadakazu
* Imai Sadashige
* Takahashi Sadatsugu
* Amada Sadayoshi
* Iyo Matsuyama ju Seiken
* Ikkansai Shigemasa



* Kasama Shigetsugu
(aka: Kasama Ikkansai Shigetsugu)
* Fujita Tadamitsu
* Nakao Tadatsugu
* Kawashima Tadayoshi
* Ishido Teruhide
* Horii Toshihide
* Toshihide
* Miyaguchi Toshihiro
(aka: Yasuhiro, Kunimori )
* Tsukagoshi Tsugunobu
* Bizen Kuni Osafune ju
Fujiwara Toshimitsu
* Kato Tsunahide
* Sagami no Kuni ju Yasuaki
* Miyaguchi Yasuhiro
(aka: Miyaguchi Toshihiro)
* Ikeda Yasumitsu
* Yasunobu
* Kajiyama Yasunori
* Kotani Yasunori
* Shimazuki Yasuoki
* Yasushige ( Abe Shigeo )
* Musashi no Kuni Yakuwa Yasutake
* Kajiyama Yasutoshi
* Yasuyoshi
* Minamoto Yoshichika
* Takahashi Yoshimune
* Chikugo Naumoto Yukihira
* Chikugo No Ju Muto Yukihiro

The above listing of origami is very incomplete. It has been compiled from individuals having direct knowledge or references of papered smiths. Many thanks to all those individuals who have contributed information on gendai swordsmiths. This is an area of Japanese sword study that is still very much on-going with new information surfacing frequently.

NOTE: Origami are issued for specific blades not to the sword smith. Many sword smiths made both traditional and non-traditional blades during the WW II period. Just because one blade by a specific smith has received origami does not mean that all blades by that smith are traditionally made. Also, there may be several smiths using the same name during this period. Each blade must be judged on its own merits and not simply by the signature of the swordsmith.

CAUTION ! Gimei blades (blades with false or fake signatures) of gendai swordsmiths have been reported. With the increase in interest and hence prices of gendaito in recent years there are sure to be unscrupulous people trying to cash in by faking gendaito. While this is not yet a wide spread problem, collectors should be aware of the possibility.

Home | Search | History | Care | Pic Glossary | Glossary | Military I | Military II | Repros | Terms I | Terms II | Dirks |
Gendai | Jumei Tosho | Origami | Flaws | Polearms | Tsuba | Logos | Real? | Clubs | Books | Events | Listservs | Kanji | Sageo
Nakirishi Mei | Measure | NBTHK | FAQ | Sinclaire | Articles | Sword Sites | Japan Sites | Martial Arts | World Swords
Yoshichika | Kanefusa | Kanezane | Teruhide | Koa Isshin | Nagamitsu | Emura | Tanto | Yoshimichi | Yasunori | Shigetsugu


URL http://home.earthlink.net/~steinrl/gendai.htm

JAPANESE MILITARY SWORDS




flag JAPANESE MILITARY SWORDS I flag

SHIN-GUNTO SWORDS

shingunto

stamps

Shin-gunto, army officers swords, are the most common style of sword mountings from the World War II era. There is an enormous difference in quality of both blades and mounts of this period. Many, perhaps most, of the blades found in shin-gunto mounts are NOT traditionally made swords. Many are machine made and therefore are of interest only as military relics, not as art swords. Some blades made during the war period were handmade but not by traditional methods. These are classified as either Showato, Muratato, Mantetsuto, Hantanzo or Yotetsuto depending on method of production.

There were swords made during this period that were made using traditional methods; these are termed Gendaito or Kindaito. Some of the smiths making traditional swords during the war era are the Yasukuni Shrine smiths, those of the Gassan School, Chounsai Emura and Ichihara Nagamitsu among many others. Swords with stamps on their nakago (tangs) were made using non-traditional methods or materials, possible exceptions being some gendaito which bear star (Jumei Tosho) stamps, although this too is debated. (Check the list of Gendai swordsmiths for some of the major smiths making swords by traditional methods during the WW II period.) Some WW II era sword companies used specific logo on the scabbards and/or koshirae which they made or sold. These sword company logos do not necessarily indicate that the company made the sword. Some of these logo are simply of shops that sold swords during the war. The scabbards (saya) of shin-gunto swords are usually brown painted metal, although it is not uncommon to find tan, navy blue or black saya. Many will have leather field covers as well. Antique blades are occasionally encountered in shin-gunto mounts.

Late in the war era, two other styles of shin-gunto mounts were produced. These late 1944 style swords, sometimes (although incorrectly) called "Marine mounts" have dark brown, rough textured lacquered wood scabbards; dark brown, lacquered "burlap" ito and iron fixtures with a stippled finish which are painted black. All manner of blades are found in these mounts, from machine-made to gendaito.


44 shingunto

44 tsuka

The other variation of the late 1944 swords has either a light brown or a tan iron scabbard and light brown or green wrapping (ito) over cloth. Blades found in these mountings are invariably of low quality and are machine made.

late 44 tsuka


By 1945, there were numerous "desperation" end of war varieties of shin-gunto being produced both in Japan and in the areas of Japanese occupation. These swords have plain copper, brass or iron mounts, simple wire tassel loops, low grade brown/tan/green ito, and poorly constructed black painted wood saya, some with leather scabbard covers. Swords of this type are all of the poorest quality, made from low grade materials. None have traditionally made blades. They are swords in form only and of interest only as historical artifacts.

"End of War" Hilts

hilt1 hilt2 hilt3

NCO SHIN-GUNTO

nco sword

Prior to 1945, NCO shin-gunto, non-commissioned officers swords, have all metal tsukas (handles) made to resemble the traditionally cloth wrapped shin-gunto swords. The first model had an unpainted copper hilt. On later models the hilts were made of aluminum and painted to resemble the lacing (ito) on officer's shin-gunto swords. These swords will have serial numbers on their blades and are ALL machine made, without exception. The serial numbers are simple assembly or manufacturing numbers; they are not serial numbers of blades as issued to specific soldiers. If the sword is all original, the serial numbers on the blade, tsuba, saya and all other parts should match.

nco copper hilt

nco hilt

In 1945, the NCO sword was changed to a simple wooden hilt with incised cross-hatching (no same' or ito) and plain, black painted iron mounts and a light brown to tan metal scabbard. Blades in these mounts are ALL machine made.

1945 nco hilt

KYU-GUNTO SWORDS
Russo-Japanese Style Mounts

kyugunto

Kyu-gunto swords, also called Russo-Japanese swords, were used by Army, Cavalry and Naval officers during the Russo-Japanese War and WW II. This style of mounting was used from 1883 until 1945. Like shin-gunto, a great variety of quality in both blades, traditional and machine made, and mounts is seen in kyu-gunto swords. Many variations are found in the scabbards of kyu-gunto swords including chromed metal, lacquered wood or leather covered wood with brass fixtures. Any style scabbard may have a leather field cover. Those swords with elongated hilts and mekugi (peg for holding blade into hilt) are more likely to have hand forged blades, while the swords lacking mekugi generally are machine made and may have chromed blades.
Russo-Japanese sword

Different styles of kyu-gunto are often confused. The backstraps of naval kyu-gunto swords have no side pieces while army kyu-gunto and colonial swords have side pieces with various emblems on the backstrap.



COLONIAL OCCUPATION SWORDS

colonial sword

As the Japanese occupied various territories in the 1930's and 1940's, they issued special swords to the colonial occupation officials. These swords were basically kyu-gunto with slight modifications. Each colonial region had a different emblem on the backstrap and sides of the backstrap representing the specific region. Colonial swords generally have machine made, chrome plated blades with etched hamon; however, a hand-forged blade may be found in colonial mounts. Saya may be chromed or leather with brass mountings.

Taiwan Korean

KAI-GUNTO

kaigunto

Kai-gunto swords were more commonly used by Japanese Naval officers. They may have rayskin covered saya which have been lacquered black or dark blue or black lacquered scabbards without rayskin. Some will have only a single hanger (ashi). The tsuka (handle) has same' (rayskin) of the same type and black or navy blue ito. The metal mounts are gilted brass. Blades found in kai-gunto mounts may be machine made, some are stainless steel, while others may be traditionally made.

Many of the stainless steel (taisabiko or sabinaito) kai-gunto were made at the Tenshozan Tanrenjo in Zushi near Kamakura in Kanagawa prefecture. These blades were made exclusively for the Navy and sold through the Tenshozan store. They are signed on the nakago "Tenshozan Tanrenjo" (see nakago at left) and marked with an anchor stamp. The other main source of blades for the Navy was the Toyokawa Naval Arsenal. Many of these blades are unsigned except for an anchor stamp (different from the Tenshozan stamp) either alone or in a circle or sakura blossom (see common tang stamps above). Stainless steel blades are all considered machine made. Some maybe oil tempered (?), but on most the hamon is purely cosmetic. The Tenshozan Tanrenjo also made Naval dirks.

kai parts

SWORD TASSELS AND KNOTS

shin tassle NCO tassle

Shin-gunto swords are sometimes found with a colored tassel (left) attached to the kabuto-gane (hilt buttcap). The officer's rank that carried the sword can be determined from the color of the tassel. Blue/brown tassels were used by company grade officers (lieutenants and captains), red/brown by field grade officers (majors and colonels), red/gold tassels for general grade officers. Tassels can be easily switched from sword to sword and reproduction tassels can also be added to WW II vintage swords. A new general grade tassel on a poor quality sword is indicative of a "made-up" story. NCO swords had a leather sword knot (right). Kyu-gunto swords had a ball type corded knot.

Kyugunto tassle

SEE ALSO:

REPRODUCTIONS AND FAKES

There are numerous other styles of Japanese military and civilian swords from the war era; including diplomatic swords, court swords, cavalry sabers and others. Refer to the excellent work of Jim Dawson "Swords of Imperial Japan, 1868-1945" or some of Richard Fuller and Ron Gregory's numerous books on Japanese military swords.


URL http://home.earthlink.net/~steinrl/military.htm

Pedang Samurai palsu

Referensi: Hati-Hati Pedang Samurai Palsu
Posted on Wednesday, January 18 @ 10:16:32 GMT by iaijutsu


Hati-Hati Pedang Samurai Palsu

Akhir-akhir ini saya sering menerima email atau sms atau telpon bahkan ada yang langsung datang ke rumah menawarkan "samurai" asli Jepang (begitu mereka menyebutnya, padahal samurai adalah orangnya sedangkan pedangnya bernama katana, nihon-to, shinken, iaito, dll tergantung jenis dan tipe nya). Begitu saya tanya "pedang samurai" yang anda tawarkan apa namanya, mereka semua tidak tahu dan tidak bisa menjawab.

Dan begitu saya lihat foto pedang yang di tawarkan selalu itu itu saja. Entah dari mana asal mulanya yang jelas kebohongon atau ketidaktahuan menyebar (saya sebut kebohongan karena setelah saya beri informasi yang benar sebagian dari mereka masih meneruskan jual beli "samurai" tersebut, saya sebut ketidak tahuan karena memang mereka awalnya tidak tahu bahwa itu bukan lah pedang yang mereka pikir, dan sebagian dari mereka berhenti menyebutnya "samurai").

Saya tidak ingin menjatuhkan siapapun dan tidak menghalangi usaha mereka berjual beli. Sah-sah saja toh mereka jualan, yang penting sesuai dengan apa yang mereka jual. Saya hanya tidak setuju mereka menggunakan "istilah" yang bukan pada tempatnya untuk menjajakan dagangan mereka.

Ketika saya tanya harganya, sering saya di buat melongo. Harganya bervariasi, mulai dari yang puluhan juta hingga puluhan milyar rupiah. Barang nya sama, harga bervariasi tergantung imajinasi si penjual. Ketika saya bahas di yahoogroups saya menjelaskan bahwa barang yang di sebut "samurai" itu bisa di dapatkan dengan harga hanya Rp. 750.000,- di Pasar Turi Surabaya, bahkan ada salah satu member yahoogroups yang memberikan informasi harga di Jakarta hanya Rp. 75.000,- lengkap dengan segala attribut yang di tawarkan.

Attribut yang biasanya ditawarkan bersama dengan pedang tersebut adalah:

1. Gambar 9 gunung dan 9 bintang.
2. Tahun bervariasi: 1817, 1705, 1136, 1465, 1575, 1801 dan 1603
3. Gambar naga, huruf kanji (entah dari mana mereka tahu itu huruf kanji, karena saya sangsi bahwa mereka mengerti bahasa Jepang).
4. Pisau kecil sering disebut oleh mereka pisau harakiri.
5. Sertifikat terbuat dari kain.
6. Gambar matahari terbit
7. Nomor Seri (yang ini agak aneh, mana mungkin zaman para samurai pedangnya pakai nomor seri segala, yang ada mah.. mei atau signature pembuat pedangnya di nagako, kecuali shin-gunto atau pedang peninggalan perang dunia II, tetapi pedang ini tahun pembuatannya tidak mungkin lebih tua dari tahun 1900-an). Klik disini untuk membaca kriteria pedang peninggalan perang dunia II.
8. Yang terakhir yang menjadi ciri khasnya: lentur bisa di buat sabuk. Ciri khas ini yang sangat menunjukkan bahwa tidak ada pedang Jepang atau pedang Samurai dari tahun manapun yang memiliki sifat lentur bisa di tekuk dan di pakai sabuk. Namun anehnya mereka masih menyebutkan "samurai". Ada 2 Kesalahan disini: 1. Samurai adalah title orangnya sama dengan pendekar atau ksatria, "samurai bukan nama pedang", 2. Tidak ada pedang samurai (nihonto) yang lentur dari tahun manapun.
9. Embel-embel yang membuat nya semakin kedengaran tambah hebat: "Putus Paku!"

Saya juga pernah menerima email dari Jakarta yang isinya kurang lebih seperti ini: "Pak, apakah anda tahu seseorang di Jakarta yang ahli menggunakan pedangnya? Saya tidak ingin latihan tapi ingin minta orang tersebut untuk mengetes sebuah pedang." Ketika saya tanya pedang apa yang ingin anda tes dan bagaimana cara mengetesnya? Mungkin saya bisa kenalkan anda pada kenalan saya di Jakarta kalau saya sudah tahu apa yang akan anda lakukan." Kemudian dia menjelaskan teknis yang akan di lakukan untuk mengetes pedang dia yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal di depan komputer (tidak akan saya uraikan disini). Ujung-ujungnya dia akan jualan pedang tersebut setelah di tes terlebih dahulu oleh (menurut dia) "orang yang ahli dalam menggunakan pedangnya". Istilah "orang yang ahli dalam menggunakan pedangnya" dan penjelasan bagaimana cara mengetesnya itulah yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Dalam hati saya berkata, "ada-ada saja nih orang".

Dalam tulisan ini, saya tidak akan memuat foto pedang tersebut, walupun di hard disk saya banyak foto-foto tersebut setelah di kirimi oleh para pedagang pedang samurai palsu itu.

Saya sering pada akhirnya berkata pada mereka, "Saya tidak melarang dan saya tidak punya hak untuk melarang anda jualan pedang dengan harga miliaran rupiah. Itu hak anda. Tetapi tolong jangan menyebarkan kebohongan dengan mengatakan pedang itu pedang samurai. Sebut saja pedang sabuk, karena memang itu namanya. Karena kalau di sebut pedang samurai, pedang itu tidak termasuk dalam kategori manapun dari pedang samurai yang benar-benar pedang samurai dari Jepang. Sama hal nya dengan orang yang menjual sebuah clurit dengan mengatakan itu sebuah keris zaman mojopahit, bagi anda yang tahu keris pasti akan tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimanapun juga, sebuah clurit tidak bisa di kategorikan ke dalam jenis keris yang mana pun. Nah berhubung orang Indonesia sangat awam terhadap jenis dan nama-nama pedang samurai, maka mereka tidak akan tahu bahwa pedang yang anda jual itu bukan pedang samurai asli Jepang."

Referensi berikut ini akan berguna bagi anda. Tulisan di website ini ditulis oleh seorang ahli sejarah pedang samurai Richard Stein, PhD dan sudah banyak mendapatkan penghargaan atas tulisannya. Dan memang sengaja di hosting di hosting gratisan agar selalu online untuk keperluan komunitas pecinta pedang Jepang (nihonto) sedunia tanpa harus mengeluarkan biaya pertahunnya. silahkan klik disini untuk mengaksesnya atau klik disini kalau link yang pertama sedang down.

Klik disini untuk membaca atau mengadakan riset tentang semua jenis nihonto (pedang Jepang atau juga di sebut oleh kebanyakan orang "pedang samurai").

Mudah-mudah tulisan dan pengalaman saya ini berguna bagi masyarakat Indonesia agar tidak mudah tertipu membeli pedang dengan harga yang tidak sesuai dengan nilai sejarahnya.

NB: Tulisan ini TIDAK di tujukan untuk menjatuhkan siapapun. Tulisan ini untuk memberikan informasi yang benar bagi masyarakat Indonesia.




Related Links
· More about Announcement at Samurai Indonesia Dojo
· News by iaijutsu
Most read story about Announcement at Samurai Indonesia Dojo:
Alamat Samurai Indonesia


Article Rating
Average Score: 3.77
Votes: 9


Please take a second and vote for this article:

Excellent
Very Good
Good
Regular
Bad


Options

Printer Friendly Printer Friendly


Sorry, Comments are not available for this article.

http://www.samurai.or.id/php/modules.php?name=News&file=article&sid=39